SEBUAH PERJALANAN BERSAMAMU
Faridz Yusuf

GERIMIS TAK DATANG SIANG ITU: cukup bagi kita buat mematangkan keinginan akan perjalanan yang bertahun tertimbun. Kotamu, yang hanya kukenal lewat beritaberita, telah membuatku ingin singgah ke dalamnya, tanpa ada ragu lagi. Kau, sembari menggulungkerudung di pinggir radio kesayanganmu, memerlambat kedip. Ini bulan September,katamu, tak baik memulai percakapan dengan anganangan.

Aku mengerti. Ini memang bukan rencana pertamakalinya yang selalu berakhir gagal. Tapi kali ini aku ingin berhenti bersandiwara bahwa berjalan ke kotamu hanya ihwal sebuah pakansi siasia. Aku akan belajar menepis beban itu. Aku akan memulai semua tentangmu dengan sebuah kebahagian. Toh kita tahu, kita belum cukup untuk bicara masa depan.

Siang itupun kita berangkat, melengkapkan rencana. Kau duduk di sebelahku, di bagian belakang bus yang uzur, dengan kursi yang miringmiring. Kendaraan melaju, kadang terseok, kadang terlalu tajam berbelok, dan seringnya batukbatuk tak karuan. Di tengah perjalanan hilirmudik pengamen dan penjaja makanan, bau parfum dari ribuan tangan penyalur, dan ringkikan tangis anak rewel dengan ibunya yang purapura tidur. Tapi ini harus bahagia: dan melakukan perjalanan bersamamu adalah awal dari kebahagiaanitu , kuyakini pasti.

Maka siang itu kuhabiskan untuk memandang wajahmu. Tiapkali ibu itu marah karena anaknya tak mau diatur, kuselipkan guratan pelangi ke cekungan alismu, dan kububuhkan warnawarnanya dari lamun dan kelimun. Pelahan, kusadari bahwa senyummu itu mampu menampik bau keringat kondektur yang melayang dihempas anginangin jendela. Ini harus bahagia, kataku dalam hati, sambil kupendam bentakan penjaja makanan yang maksamaksa. Aku tak peduli, aku hanya ingin bahagia, kataku lagi dalam hati.

Tepat di sebuah perhentian, saat kau turun sejenak membeli coklat kesukaanmu, aku membeku di balik jendela. Di luar, senja tengah merapatkan gelap ke gulita, membangkitkan magrib yang gaib. Dalam hati aku menduga, kebahagian ini takan pernah kuraih sampai kapanpun, karena kebahagiaan itu justru adalah dirimu sendiri. Kusadari, aku abai akan kebahagiaan yang selama ini kerap bertandang ke lubuk hatiku. Akhirnya aku mengerti, mencintaimu adalah mencintai kebahagiaan itu sendiri, dan merindukanmu adalah kesetiaan pada sebabsebab tiap jalan menuju sangsi satusatu mulai terkunci.

Siang itu gerimis akhirnya datang: ia muncul dari hitam mataku, dalam hangat sangat pelukmu. Ya, perjalanan ini membuatku bahagia, karena aku di sisimu, dan kau di dalam diriku. Sebelum kotamu memanggilku sepuluhmenit lagi, kutajamkan sudut bibirmu dengan nafasku: Mwah![]

25/08/2010, 22:07
http://www.facebook.com/note.php?note_id=427003402279