POISON D’ETRE
Faridz Yusuf

PAGI INI aku punya takut yang berlebihan: menyeberang jalan.

memang, kiri-kanan bukan lagi binari posisi ideologi yang bisa kucomot dari sebuah istilah di traktat falsafi. dua posisi itu jadi lebur dalam jalan, dalam sebuah gegas yang seolah tanpa sangsi: tentang ke mana mereka pergi, atau soal apa yang mereka cari, atau sejumlah ihwal metapersepsi tentang kegaiban sedetik kemudian. kesangsian di jalan merupakan poison d’Etre.

jalanan telah berhimpun jadi satu: tak cuma gegas atau lekas. namun juga berarti milik. ini paradoks, saat yang sama jalanan jadi himpun kolektif soal barikade, namun saat yang sama pula jalan adalah milik yang tiap orang berhak untuk berpikir hanya bagi-dan-untuk-diri-mereka-sendiri soal visi-utopia Prigoginian. ini yang mengerikan: mereka jadi sekaku tebeng dan dashboard, keningnya keras serupa dengan stainles blok-mesin, kedalaman mereka soal masa depan nampak terukur sekencang knalpot teriak. dan bisu: sebab kecakapan bahasa mereka jadi tumpah dalam mono-fonesintagpragmatik, klaksonianisme.

tapi mungkin aku salah, karena aku di tepian, hingga laku jalanan demikian kerap jadi ancaman. hingga aku yang memandang dan mencoba menyebrang ke jalanan terasa gentar dan gamang. di tepian, jalanan rupanya nampak lebih liar ketimbang pacuan. memang di sana tak ada undian: tapi ada taruhan. selangkah ke ruas jalan artinya mati dan jasad diacuhkan.

sebab jalanan juga berarti milik: jasad yang terbaring juga akan sekaku tebeng dan dashboard, selempang blok mesin, dan aku ragu bila perkabungan akan segera dipanjatkan karena jalanan tak sedetikpun berhenti untuk menjadi himpun ke-tanpa-aliefikasi-an dan tanpa-ittihad-banalian-an.

di tepi jalan aku hanya memandang sambil bersungut-kutuki-diri karena menyeberang tiapkali gawal. tapi mungkin ini soal yang benar: aku punya takut yang berlebihan. pertanyaan muncul: tapi mengapa baru sekarang? tepat di saat pagi cerah untuk mengantar seekor bocah pergi sekolah? mengapa bukan saat aku ingin hidup sedatar kaca spion, sedingin kirmir2 di tepian sebagai disensus dalam taruhan jalanan?

tiga puluh menit kemudian: jalanan masih ribut. aku duduk di tepian sambil menyulut rokok, menunggu kendaraan terakhir berjalan: jujurnya mungkin menghimpun keberanian untuk-tak-menjadi-liyan-jalan, dan tak ingin mati jadi seonggok kelu yang hanya punya kecakapan bahasa klaksonian wa knalpotian.

Cinunuk, 15042010