TANAH HATI
: lena 1
Faridz Yusuf

duduk termangu,
menyelami bulan yang setengah telanjang
ada hati ingin lepas dari gerigi pagar
yang nampak selalu pagi
kutatap, sepasang awan bercumbu
memainkan hikayatku di ujung bambu

dan selepas azan senja itu,
saat orang-orang menegas, bergegas-gegas,
berziarah mengampuni tuhan dan alamnya
yang begitu lelah mengemas semua doa-doa

atau sebaliknya, menyerapahi kejalangan diri, dan
kelengahan kerlip dalam takbiratul ihram yang selalu legam
: yang kian memadam
atau sebaliknya, mengutuki ketololan diri, dan
kekosongan riwayat dalam iftitah yang selalu patah
: yang kian tak terpapah
atau sebaliknya, menjambaki kelacuran hati, dan
kebimbangan jalan dalam hamdalah yang selalu lemah
: yang kian tak berarah
atau sebaliknya, mengeja kejahilan jiwa, dan
kegamangan puja dalam surat-surat yang selalu pucat
: yang kian tak terlawat
atau sebaliknya, meraba papanya pandang, dan
kekeliruan niat dalam ruku-ruku yang selalu kelu
: yang kian tak lagi laku
atau sebaliknya, mengusir kegetiran pikir, dan
kebekuan abad dalam sujud-sujud yang selalu jumud
: yang kian tak terenggut
atau sebaliknya, meneguhi kefakiran diri, dan
kebodohan ruang dalam tumaninah yang selalu punah
: yang kian tak terjemah
atau sebaliknya, mengarungi kekalahan diri, dan
keremangan puisi dalam tasyahud yang selalu lupa
: yang kian tak terasa

masih duduk termanggu,
mengharap bulan umam telanjang
kutapaki kefanaan ruang dan persimpangan
kususuri ziarah waktu dan perhentian
ada hati ingin pergi menjelajahi tatapan batin
bahwa di sana ada khali azali mengguruiku
dalam rakaat-rakaat kehampaan abadi
dalam isyarat-isyarat tanah

: dan semua menghilang,
sebab bulan kembali pulang
dan tak pernah benar-benar telanjang

Keluarga Mahasiswa Banten [waktu di Permai]
14/05/2005, 23: 42