RAIHLAH AKU
Farid Yusuf

MENGAPA KAU TEMPUH AKU DARI SUDUT MATAWAKTU: sebelum kaupetikkan bagiku kuncup-kuncup api Moria. kenapa terlalu lama? lambat, sisa pemandian Ogamisama telah mengering menuliskan silsilah nasib kita. bulan juga telah lebih cekat membagikan dingin ke ruang terindah di April itu: ketika kita berjanji untuk memaafkan Cleophatra; yang diam-diam menyihir malam dan siang kita jadi sepasang sayap Ikarus.

dan akan selalu jatuh lagi. tapi kau masih saja menghimpun nama-nama gaib masa lalumu: menggaru sekian rikuh yang kautanam di tanah Kappa kealfaanmu. meski kau tahu, perahu Nuh tak akan menjemputmu ataupun singgah untuk memberimu sekotak surat jawaban dari sedetik ragumu. sudahlah, batu-batu telah bergigilan memantapkan niatmu, agar kauberani membakar perbekalanmu sendiri.

yang kaupahatkan di bibir Ibumu, Kunti, yang becek karena telah berulangkali memberimu peringatan: semestinya kaumeraibkan diri ke dalam nganga Pandora. karena luka adalah titipan almanak; dan perih adalah interlude dari setiap tenunan takdir ini. agar kau bisa lebih cepat menemuiku yang telah sekian lama mengepungmu di penghujung tujuanmu yang tak selesai.

berdirilah, sampirkan langit di pundakmu yang terbuat dari aral dan daun-daun Lemuria itu. tembuslah matarantai hujan dan lapukkanlah namaku: sehingga kau mengerti bahwa esok adalah bagian dari sejarah pencarianmu. usah kautolehkan wajahmu, biarlah letih yang akan mengasahkan pedang Izrail untuk mengukur sejauhmana ketulusanmu. berdirilah, ratakan betismu bersama para Troll goa.

karena sampan Zarathustra telah ditenggelamkan Khidr: jauh ke dalam pelupuk buku harianmu. jangan lambat! sedetik saja kaulengah, Hera akan lebih dahulu menyanyikan lagu saat-saat perjumpaan kita nanti: saat-saat muram ketika kita mesti mengawinkan sunggingan Schopenhouer di saku celanamu dan senyuman Sisifus di saku celanaku. Dan itu menyakitkan sekali! maka bangkitlah secepat Troya mengumbar kemuskilan manusia.

berangkatlah, angin telah condong melukis bayang-bayangmu. biarkan kini terumbu rindu yang kaupijak merambatkan bunga-bunga Shiddhartta ke kakimu yang lancip. itu akan menambah doa keselamatan bagimu jika kau bertemu dengan manusia di perjalanan nanti. sesekali, panjatkanlah namaku: karena Dia telah mengetuk pintuku. bukankah Al-Junaid telah menceritakan itu padamu? Angkatlah mukamu seteguh Musa mendengar: Ehyeh asyer Ehyeh!

raihlah Aku.[]